Sunday, June 23, 2013


Tengkleng Bu Edi Pasar Klewer adalah tengkleng terenak yang pernah saya makan seumur hidup. Dulu Bu Edi bekerja sama dengan Kopi Oey Solo, sayangnya sekarang sudah tidak bekerja sama lagi. Terpaksa saya harus mencari tengkleng ini ke lokasi asal dagangannya, yaitu di depan pintu pasar klewer.

Jam menunjukkan jam 12, di depan gerbang pasar klewer belum ada tanda-tanda Bu Edi akan buka. Pengunjung sudah mulai berkerumun menunggu, tetapi masih bisa dihitung dengan jari. Jam 1 Bu Edi datang beserta pegawainya membawa panci, orang-orang yang tadinya tidak menunggu pun mulai mendekat. Saya yang berencana makan di tempat mulai duduk karena takut tidak kebagian.

Dan ternyata, yang duduk malah tidak dilayani, semuanya berebut di depan saling sikut. Sistemnya tidak kenal antri. Ada bapak-bapak kesal yang duduk bersama saya berteriak-teriak menyindir, "kami ini dari Jakarta loh, sudah capek nunggu dari tadi, kenapa ga pada ngantri atau pakai sistem nomor sih?". Ternyata yang dari luar kota bukan hanya sendirian, mungkin karena faktor saya yang datang di hari minggu siang sehingga pengantri juga menjadi membludak. Saya hitung ada sekitar 40 orang yang berebutan! 

Saya dengan muka kesal sudah siap-siap pergi, untung saja ada yang membantu untuk menerobos antrian demi merebut dua porsi tengkleng. Terbayang dulu makan di Kopi Oey pesan tengkleng Bu Edi tinggal duduk manis saja (tentu dengan harga lebih mahal), nikmat sekali. Tengkleng Bu Edi disajikan menggunakan pincuk, kalau soal rasa ga usah ditanya. Ini kuliner yang wajib dicoba kalau ke Solo minimal sekali selama hidup. Selesai makan, kami pun membayarkan dua porsi tengkleng dan minum totalnya 40rb Rupiah. Hmmmph, tengkleng ini sangat cocok bagi penganut paham "no pain no gain" dan "what doesn't kill you makes you stronger".

Tagged: , , , ,

0 komentar:

Post a Comment