Thursday, June 30, 2016


Ini kali pertama saya bulan puasa dan kerja di Jakarta. Setiap bulan Ramadhan selalu ada saja pasar tumpah yang menjajakan kuliner menarik di berbagai kota di Indonesia. Jakarta, sebagai Ibukota negara tentu saja punya berbagai macam pasar kaget dengan ragam kuliner dari penjuru nusantara.


Salah satu pasar Ramadhan yang terkenal di Jakarta adalah Pasar Takjil Benhil. Berlokasi di area Pasar Benhil, pasar ini memiliki penjaja yang biasanya memang rutin berjualan di Pasar Benhil dan beberapa pedagang musiman. Apabila sebelum Ramadhan Benhil sudah padat, maka ketika ada Pasar Takjil, tempat ini menjadi ekstra padat!


Tidak ketinggalan banyak media meliput ke Pasar Takjil Benhil. Koran dan majalah berdatangan, TV bahkan mengambil gambar siaran langsung. Luar biasa fenomena pasar yang satu ini. Saya sendiri tidak mengerti mengapa begitu populer, namun faktor lokasi bisa jadi menguntungkan karena mereka sangat dekat dengan perkantoran di jalan Sudirman. 


Ketika saya pergi ke Pasar Takjil Benhil, saya menemukan beberapa yang menarik. Yang pertama saya beli adalah gudeg Ibu Laminten, sudah lama tidak mencicipi makanan asli Jogja. Kemudian tidak lupa juga beli bubur kampiun dan lauk masakan Minang yang memang menjadi comfort food saya, Urusan makanan Minang, Benhil memang jagonya. Sebut saja bopet mini, surya, muaro padang dan banyak lagi lainnya.


Selain itu banyak juga makanan dari Sumatera, seperti pempek dan masakan aceh. Dan juga makanan yang berakar kultur dari luar seperti canai kari, biryani dan aneka olahan kurma. Pintar-pintar dalam mengatur strategi, kalau lapar mata bisa jebol nanti dompet anda!


Pasar Takjil Benhil menawarkan jenis makanan yang sangat beragam. Jika anda berada di sekitar Jakarta jangan lewatkan kesempatan untuk jajan di pasar takjil yang (mungkin) paling banyak diliput oleh media nasional.

-----

Lebih dekat dengan hungerranger, follow:


Thursday, June 2, 2016



Soooo.... A Taiwanese guy once told me: "Yo my bro, di Taiwan sih lebih terkenal hot star perkara ayam-ayaman. Lo ngapain makan merek sebelah, ga asik itu" My respond was "Ya mana gue tau coy, merk yang itu nongol duluan dimari, cabangnya juga lebih banyak"

Yaudah, hasil keputusan dari pembicaraan tersebut saya harus nyobain bintang panas katanya. Si bintang cabangnya belom banyak, saya kebetulan nemu di PIM 1. Menu jualannya sih ya khas Taiwan banget. Ada kentang goreng, ubi goreng, aneka teh buah gaya taiwan dan pastinya ayam goreng.


Saya ambil paket ayam kentang dan minum. Pilihan ayamnya ada dua di hotstar, mau versi bite atau versi large. Buat yang seneng potongan besar go for large, buat yang suka potongan kecil-kecil bite lebih cocok. Enaknya di hotstar selain bumbu standar kaya bbq, blackpepper adalah ayamnya bisa dibumbu sour plum! Ini bumbu favorit saya, mau di ubi, di kentang, di ayam, semua enak. Gurih-gurih asem. 

Porsi ayamnya gede banget btw, buat saya satu porsi ini berlebihan untuk satu orang. Bisa buat ngemil berdua. Kalau kentangnya sih oke, tapi not special. Yang menarik justru teh buahnya. Ala-ala warung-warung bubble tea gitu. Ada rasa nanas, leci, mangga, markisa, dll. Teh buah ini juga ga ada di merk sebelah, sehingga menjadi daya tarik sendiri untuk jajan di hotstar. Agak mahal dibanding kompetitor, tapi mereka punya diferensiasi pilihan.

-----

Hot Star

Area 51 PIM 1

Set Meal Chicken Bite: 60.908
1 Snack + 1 Drink: 27.272
3 Snack: 45.454

(Excluding Tax)

-----

Lebih dekat dengan hungerranger, follow:



Wednesday, June 1, 2016


Suatu malam seusai kerja saya diajak makan sate. Sudah lama tidak makan sate saya pun mengiyakan, lokasinya tidak jauh pula dari kantor. Tanpa ekspektasi saya pergi dan mengira bahwa malam ini akan biasa aja seperti bagaimana malam-malam pulang kantoran lainnya.

Dari luar terlihat sudah ada beberapa orang mengantri. Jam menunjukkan pukul 6:30, sepertinya baru buka sebentar namun peminatnya sudah bersabar menunggu. Sekitar setelah maghrib sate baru mulai dibakar. Karena malas berpikir mencari tempat makan lain jadi saya tunggu saja walaupun menunggu.


Perlahan, beberapa penunggu antrian pulang dengan membawa bungkusan. Giliran saya pun tiba, sate ayam saya datang. Penampakan 10 sate yang baru selesai dibakar ditambah dengan nasi panas membuat saya bergairah. Potongannya besar, bercampur antara daging, ati, usus dan kulit ayam. Saya suka variasi yang tidak hanya daging membuat makan tidak membosankan. Gelimangan bumbu kacangnya legit. Menambahkan sambal memperkaya rasa, tanpa menghilangkan karakter asli bumbu kacang. Kuah sup bisa diminta secara gratis, apabila anda tidak ingin nasi terlalu kering. Namun saya kurang cocok dengan kuah supnya yang seperti gule Jogja, karena hakikatnya lebih cocok untuk klathak.

Sudah lama tidak menemukan sate ayam yang impresif seperti ini. Saya merasa puas, menemukan tempat makan enak di sekitar kantor membuat letih kerja berkurang signifikan. Direkomendasikan bagi yang ingin makan sate ayam.

-----

Sate Khas Madura Cak Syamsi

Jalan Rawajati Timur
(200m Stasiun Pasar Minggu Baru arah Plaza Kalibata kanan jalan)

Sate Ayam: 20rb
Nasi putih: 5rb

-----

Lebih dekat dengan hungerranger, follow: