Tuesday, December 1, 2015


Kembali ke Jakarta dari Jogja membuat saya mengalami reverse culture shock. Kalau di Jogja berakhir pekan ada banyak alternatif tempat makan dan kegiatan yang menarik selain di mall, maka selama di Jakarta kerjaan saya akhir pekan lebih banyak mall hopping sejabodetabek.

Mall yang kali ini saya kunjungi adalah Central Park. Ini pertama kalinya saya ke Central Park setelah entah berapa lama tidak main-main ke Jakarta Barat. Kunjungan kemari dipilih karena British Council menyelenggarakan Great Britain Food & Drink Festival. Acara yang berlangsung selama tiga hari ini berada di area Tribeca Park, Central Park. Bagian outdoor mall tersebut disulap bergaya British.


Taplak plaid dimana-mana. Keranjang piknik, booth telepon, set minum teh, teddy bear dan banyak lagi dekorasi Inggris lainnya. Walaupun tatanannya sudah cantik dan yu-key banget, sekali lagi muncul bayangan masa lalu... "festivalnya adem ayem nih, coba festival secantik ini ada di Jogja pasti rame banget!"

Selain makanan yang menjadi sorotan utama, booth lain yang buka di festival ini kebanyakan adalah booth travel agent dan peralatan rumah tangga. Banyak banget barang-barang lucu khas Britania yang mungkin susah kalau dicari di toko biasa.


Masuk ke bagian makanan, yang pertama saya coba justru pizza. Maklum, harga express pizz dibandrol cukup murah pada waktu itu. Hanya sepuluh ribu per slice. Jadi saya putuskan untuk membeli dua potong pizza.


Klasik. Pepperoni & mushroom. Tipis, renyah dengan topping yang terasa di setiap gigitan. Untuk pengganjal perut sore hari lumayan banget.


Selanjutnya saya icip-icip di gerai Britatoes. Food truck yang biasa keliling Jakarta ini mampir di acara GB Food & Drink Festival. Menu-menunya emang british banget, kentang-kentangan dengan aneka daging dan ga ketinggalan fish & chips menu tradisionalnya orang sana. Britatoes memiliki range harga sekitar 25-55 ribu rupiah.


Dari Britatoes saya coba banger & mash. Makanan ini sangat merakyat di UK. Disebut bangers & mash karena gabungan dari dua bahan utamanya yaitu sosis yang dalam keseharian disana disebut bangers serta mashed potato. Kentang tumbuk creamy disajikan dengan sosis bockwurst gemuk empuk, parutan keju, potongan bawang dan saus gravy. Yummy!


Untuk penutup saya tidak mau ketinggalan yang bernuansa lokal. Restaurant Pullman Hotel menyajikan menu-menu khusus hidangan penutup di festival. Dari etalasenya saja sudah terlihat bentuknya yang cantik-cantik.


Pilihan dessert saya jatuhkan ke sticky toffee pudding. Mungkin kalau di Indonesia dengar pudding ingatnya jelly-ish atau agar yang kenyal, tapi tidak berlaku kalau di UK. Pudding bisa berbentuk kue steam seperti sticky toffee pudding ini. Kue terasa padat berempah dengan isi potongan kurma dan taburan gula, yang buat spesial ya sticky toffeenya, manisnya khas. Ini pertama kalinya saya coba sticky toffee pudding dan menyenangkan!

-----

Lebih dekat dengan hungerranger, follow:

Tagged: , , , , , , , , , , , , , , , , ,

0 komentar:

Post a Comment